Para Bidan Inspirasional

0

Profesi bidan punya banyak tantangan. Tugasnya bukan sekadar membantu persalinan, namun juga menjadi mitra bagi perempuan. Berikut ini beberapa bidan inspirasional peraih penghargaan Srikandi Award 2011 yang mungkin bisa lebih memotivasi para calon bidan atau bidan-bidan semuanya.

1. Bidan Meiriyastuti – Jambi
Meiriyastuti, perempuan berusia 32 tahun ini termasuk bidan muda di Desa Teriti, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Meski masih muda, ia tak gentar berhadapan dengan masyarakat menjawab tantangan budaya setempat. Bukan perkara mudah bagi bidan muda untuk mengubah persepsi di masyarakat mengenai penanganan persalinan yang keliru, bahkan merugikan kesehatan ibu dan bayi.

Ritual pascapersalinan membudaya di masyarakat yang tinggal di tepian sungai Batanghari. Salah satunya ritual “Nyebur ke Ayek”. Ritual ini mengharuskan bayi berusia tujuh hari untuk dimandikan air kembang di sungai Batanghari yang dingin. Sementara, pascamelahirkan, ibu hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan kecap asin selama 40 hari. Ibu pantang makan sayuran dan ikan, karena dianggap akan mendatangkan penyakit pada bayi.

Meiriyastuti mendapatkan penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011, atas konsistensinya melakukan pendekatan kepada masyarakat selama 11 tahun untuk memodifikasi tradisi. Yakni, mengajak masyarakat memandikan bayi, tetap dengan bunga, namun berisi air hangat yang ditampung dalam baskom.

2. Bidan Rosalinda Delin – Belu, Nusa Tenggara Timur
Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Atapupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur berlokasi 12 kilometer dari perbatasan Timor Leste. Di desa ini, masyarakat setempat mengenal budaya panggang api pasca persalinan. Selama 40 hari pascapersalinan, ibu dan bayi di Jenilu harus melakukan ritual panggang api yang berisiko menimbulkan anemia pada ibu, dan mengganggu pernafasan bayi.

Adalah bidan Rosalinda Delin yang menggerakkan sosialisasi dari rumah ke rumah mengenai risiko ini. Perlahan, masyarakat mulai meninggalkan budaya panggang api. Atas perjuangannya, penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011 diberikan kepadanya.

3. Bidan Kesih – Bandung, Jawa Barat
Kemiskinan berdampak pada kesehatan ibu dan bayi. Inilah yang menjadi dasar perjuangan bidan Kesih (35) yang bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Dari 1685 kepala keluarga yang berprogesi sebagai buruh tani di desa ini, 90 persennya tergolong miskin.

Bidan Kesih kemudian mengajak perempuan berdaya secara ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan kesehatan. Bidan Kesih memimpin koperasi Bunda pada 2006 dan melahirkan 69 kader darinya. Produk keripik opak menjadi sumber mata pencaharian perempuan di desa ini, yang dijual melalui koperasi. Bersama kader-kadernya, bidan Kesih juga membantu warga miskin dengan memfasilitasi dana sosial bersalin. Membangun kemandirian ekonomi perempuan yang menjadi perhatian bidan Kesih, membawanya ke Jakarta sebagai penerima penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.

4. Bidan Ponirah – Serang, Banten
Angka kematian ibu dan bayi menjadi masalah utama di pedesaan lantaran minimnya akses dan tenaga kesehatan. Bidan Ponirah (43), yang bertugas di Desa Waringin Kurung, Serang, Banten, berinisiatif mendirikan Bidan Praktek Swasta untuk memberikan solusi.

Cara yang dipilihnya di antaranya menggalakkan kegiatan senam ibu hamil, pemeriksaan kandungan, kunjungan nifas selama 40 hari untu mengawasi kesehatan ibu dan bayi, memberikan pelayanan gratis bagi keluarga tak mampu, juga menjalin hubungan dan kerjasama dengan dukun beranak. Upaya bidan Ponirah membuahkan hasil. Angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya mencapai lima persen dari total kelahiran (data sebelum 2003). Namun kini, terjadi penurunan kematian ibu dan bayi mendekati nol persen pada 2011. Atas upayanya di bidang promosi kesehatan, bidan Ponirah layak menerima penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.

5. Bidan Dewi Susila – Deli Serdang, Medan
Bidan Dewi Susila (32), berkontribusi menggalakkan pencegahan HIV/AIDS usia dini melalui program “Kesan Pertama di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Tingginya angka kasus HIV/AIDS di Tanjung Morawa karena penyalahgunaan narkoba dan seks bebas melatari program ini. Kini, ada 180 pemuda yang bertugas sebagai agen penyebar informasi mengenai bahaya HIV/AIDS. Upaya bidan Dewi menciptakan generasi musa sehat di Tanah Deli memberikan inspirasi dan apresiasi, berupa penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011.

sumber : kompas.com

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

Your email address will not be published. Required fields are marked *